Seminar Nasional Apoteker – ISTN Jakarta Selatan

A : Kalau sakit minum antibiotik ini aja. Kemarin saya sembuh.

B : Oh… Ya deh nanti saya beli diapotek.

Sesampainya di Apotek

B : Saya mau beli antibiotik Amoxy****

APA atau TTK : /memberikan obat secara langsung tanpa bertanya/

Setibanya dirumah si B meminum antibiotikhanya sampai gejala penyakit nya sembuh, setelah itu disimpan. Tidak dihabiskan. Pernahkah mengalami hal itu ? Tentu saja. Kurangnya pengetahuan dalam hal ini secara tidak langsung dapat meningkatkan resistensi yang terjadi di Indonesia.

Oleh sebab itu kami mengadakan Seminar yang bertemakan antibiotik dikarenakan kondisi kita yang sudah semakin terpuruk akan pengetahuan antibiotik. Brosur real size

Anti antibiotika sendiri pada awalnya merujuk pada senyawa yang dihasilkan oleh jamur atau mikroorganisme yang dapat membunuh bakteri penyebab penyakit pada hewan dan manusia. Saat ini beberapa jenis antibiotika merupakan senyawa sintesis (tidak dihasilkan dari mikroorganisme) tetapi juga dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri. Secara teknis, zat yang dapat membunuh bakteri baik berupa senyawa sintesis atau alami disebut dengan zat anti mikroba, akan tetapi banyak orang menyebutnya dengan antibiotika. Meskipun antibiotika mempunyai manfaat yang sangat banyak, penggunaan antibiotika secara berlebihan juga dapat memicu terjadinya resistensi mikroba.

Resistensi antibiotika timbul bila suatu antibiotika kehilangan kemampuannya secara efektif dalam mengendalikan atau membasmi pertumbuhan bakteri, dengan kata lain bakteri mengalami kekebalan dan terus berkembangbiak meskipun telah diberikan antibiotika dalam jumlah yang cukup untuk pengobatan.Resistensi mikroba telah menjadi masalah global. Jumlah kuman pathogen yang resisten meningkat akibat penggunaan antibiotika yang berlebihan sehingga menimbulkan masalah yang sangat sulit diatasi. Contoh kuman-kuman yang dikenal resisten dan menyebabkan berbagai masalah di dunia adalah methicillin-resistance Staphylococcus aureus (MRSA), vancomycin resistance enterococci, penicillin-resistance pneumococci, extended-spectrum betalactomase-producing Kleibseila pneumonia (ESBL), carbapem-resistance Acinobacterbaumanni, dan multi resistance Mycobacterium tuberculosis.

Salah satu faktor yang dianggap paling berpengaruh terhadap peningkatan resistensi antimikroba adalah penyalahgunaan antibiotika di berbagai pelayanan kesehatan dan masyarakat awam. Menurut WHO, upaya untuk mengoptimalkan penggunaan obat sangat penting dalam mengontrol penyebaran resistensi, salah satunya dengan cara edukasi. Di Indonesia, mudahnya mendapatkan antibiotik tanpa menggunakan resep dokter juga merupakan faktor tingginya resistesi antimikroba. Disamping itu jugaKurangnya tenaga kesehatan dalam memberikan edukasi menjadi salah satu penyebab menurunnya rasionalitas penggunaan antibiotik pada masyarakat. Berkaitan dengan hal tersebut, sasaran peserta seminar dan Workshopini adalah mahasiswa Apoteker, mahasiswa Farmasi dan mahasiswa kesehatan lainnya, serta praktisi kesehatan sebagai salah satu upaya dalam meningkatkan kesadaran dalam penggunaan antimikroba secara bijak/rasional, serta menggali berbagai informasi untuk mendorong dan mendukung penentuan, pengembangan, penggunaan dan penegakan aturan/kebijakan terkait pengendalian pengunaan antimikroba di Indonesia.

So ? Let’s join with us !!

11393317_1015108355168660_8072881424361194977_o

SEMINAR DAN WORKSHOP NASIONAL APOTEKER XXVII ISTN
(8 SKP IAI)
“Ancaman Resistensi Antimikroba dan Bagaimana Solusinya”
Sabtu, 13 Juni 2015
di
Auditorium Rimpun Ilmu Kesehatan UI Depok
Keynote Speech
Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M (K)
(Menteri Kesehatan Indonesia)
*Menunggu Konfirmasi.
Dengan tema:
“Peran dan Upaya Pemerintah Dalam Peningkatan Penggunaan Antimikroba yang Rasional serta Penanggulangan Ancaman Resistensi Antimikroba”
PEMBICARA:
1. Prof. Dr. Maksum Radji, M.Biomed., Apt
(Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Indonesia)
“Perkembangan Penggunaan Antimikroba yang Rasional dan Kendala yang Dihadapi Dalam Pengobatan”
2.WHO Representative to Indonesia
“Development and Implementation of the WHO Global Strategy for Containment of Antimicrobial Resistance” Lesson Learning for Pharmacist
3. Dra. Yulia Trisna, Apt.,M.Pharm
(Kepala Instalasi Farmasi RSCM)
“Perkembangan Penanganan Resistensi Antimikroba di Rumah Sakit dan Peran Apoteker dalam Rangka Patient Safety”
4. Drs. Sahat Saragi, M.Si., Apt
(Manager Quality Assurance PT. Kimia Farma Apotek)
“Perkembangan Penanganan Resistensi Antimikroba di Apotek dan Peran Apoteker dalam Rangka Patient Safety”
HTM.
Mahasiswa S1 Farmasi
:Rp. 225.000,-
Mahasiswa Apoteker
: Rp. 300.000,-
Umum
: Rp. 375.000,-
On The Spot:
+ Rp. 75.000 untuk setiap kategori tiket.
Transfer ke:
Bank BCA No. Rek. 6040299147
A.n : Ice Ratna Juita
Contact Persons
M. Ibnu Rumaji
085319132245
Fera Fatmawati Istiana
081373744523
M. Adit
081218485607
Konfirmasi pendaftaran via SMS/WA ke 081367978684 (Ice Ratna Juita)
Dengan Format : SNA27ISTN_NAMA(Lengkap dengan gelar)_PEKERJAAN_INSTITUSI_JUMLAH TRANSFER_TANGGAL TRANSFER.
Bukti Transfer Pendaftaran dikirimkan kepada panitia melalui Email : Seker27aptistn@gmail.com

Silahkan Cuap-cuap

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s