KLORAMPHENIKOL

Kloramfenikol berasal dari:
  •   streptomyces venezuelae
  •   Streptomyces phaeochromogenes
  •   Sterptomyces omiyamensis

Sejak tahun 1950 sudah dibuat secara sintesis dan diperoleh struktur kimianya yaitu:

•1-(p-nitrofenil)-2-diklorasetamido-1,3-propandiol
•Pada tiamfenikol gugus NO2 diganti –SO2-CH3
SIFAT FISIKA DAN KIMIA
•Zat ini larut sedikit dalam air (1:400) dan relatif stabil.
•Obat ini diinaktifasi dengan mereduksi gugus nitro dan menghidrolisis ikatan amida, serta terjadi asetilasi.
•Turunan kloramfenikol khasiatnya tidak ada yang melebihi kloramfenikol.
•Karena sangat pahit, pada anak-anak digunakan  bentuk ester palmitat. Senyawa ini akan aktif setelah mengalami hidrolisis dalam tubuh.
•Untuk dewasa dapat dibuat dalam bentuk kapsul.
•Untuk pemakaian parenteral digunakan garam  ester natrium monosuksinat.
Spektrum dan Daya Kerjanya
•Kloramfenikol mempunyai spektrum antimikroba yang luas.
MEKANISME KERJA
•Kloramfenikol bekerja menghambat sintesis protein bakteri.
•Obat dengan mudah masuk ke dalam sel melalui proses difusi terfasilitas.
•Obat mengikat secara reversibel unit ribosom 50S, sehingga mencegah ikatan asam amino yang mengandung ujung aminoasil t-RNA dengan salah satu tempat berikatannya di ribosom.
•Pembentukan ikatan peptida dihambat selama obat berikatan dengan ribosom.
•Kloramfenikol juga dapat menghambat sintesis protein mitokondria sel mamalia disebabkan ribosom mitokondria mirip dengan ribosom bakteri.
RESISTENSI
•Secara invivo resistensi bakteri gram – terhadap kloramfenikol disebabkan adanya plasmid khusus yang didapat pada konyugasi .
•Pada Mikroorganisme ini ada asetil transferase khusus yang menginaktivasi obat dengan menggunakan asetil koenzim A sebagai donor gugus asetil.
•Kloramfenikol yang terasetilasi tidak dapat berikatan dengan ribosom.
•H.influezae yang resisten terhadap kloramfenikol mengandung faktor resisten yang dapat dipindahkan ke E.coli dan galur H.influenzae lainnya.

Hilangnya sensitivitas (resistensi) terhadap kloramfenikol disebabkan;

  • degradasi enzimatik,
  • menurunnya permeabilitas dinding mikroorganisme ( seperti pada E.coli dan Pseudomonas)
  • mutasi ribosom.
  • Resistensi terhadap kloramfenikol relatif sedikit dan berlangsung lambat.
FARMAKOKINETIK

Absorpsi.

•Kloramfenikol diabsorpsi dengan cepat setelah pemberian oral
•Kadar puncak dalam plasma dicapai setelah 2 jam.
•Kloramfenikol palmitat atau stearat dihidrolisis menjadi kloramfenikol oleh lipase pankreas dalam duodenum.
•Ketersediaan hayati kloramfenikol lebih besar dari pada bentuk esternya, karena hidrolisis esternya tidak sempurna.
•Pemakaian parenteral digunakan kloramfenikol  suksinat yang akan dihidrolisis di jaringan menjadi kloramfenikol.
•Pemberian i.m  sulit diabsorpsi shg tidak dianjurkan.
•Pemberian i.v kadar maksimum kloramfenikol aktif sama seperti pada pemberian oral.

Distribusi.

•Distribusinya luas.
•Kadarnya dalam cairan serebrospinal 60%, kadar dalam plasma 45 – 90%.
•Kloramfenikol ditemukan dalam:
  •   empedu,
  •   ASI ,
  •  melewati sawar plasenta,
  • cairan mata.

Ekskresi.

•Kloramfenikol dan metabolitnya diekskresi melalui urin dengan cara filtrasi glomerulus dan sekresi.
•Dalam waktu 24 jam 75-90% dosis oral diekskresi dalam bentuk metabolit dan 5-10% dalam bentuk asal.
•Waktu paruh pada orang dewasa kira-kira 4 jam.
•Pada pasien yang mengalami gangguan hati waktu paruh lebih panjang menjadi 5-6 jam karena metabolismenya terlambat.
•Pada pasien gagal ginjal waktu paruh koramfenikol tidak berubah tetapi metabolitnya mengalami akumulasi.
EFEK SAMPING DAN TOKSISITASNYA

~ Reaksi hipersensitivitas.

•Walaupun relatif jarang dapat timbul pemerahan kulit, angioudema, urtikaria, anafilaksis dan demam.

~ Reaksi hematologik.

•Reaksi toksik utama adalah depresi sumsum tulang, shg terjadi kelainan darah, anemia aplastis.
•Kelainan ini tergantung pada dosis, bila obat dihentikan maka kelainan akan sembuh.
•Pengaruh genetik tidak tergantung dosis, bisa terjadi anemia aplastis yang irreversibel  sehingga dapat menimbulkan kematian(1:30.000), walaupun sembuh dapat terjadi leukemia akut.
•Kloramfenikol sebaiknya tidak diberikan jika penyakit dapat disembuhkan dengan obat lain atau jika penyakit belum jelas.

Gray sindroma.

•Pada neonatus terutama bayi prematur yang mendapat dosis tinggi (200mg/kg BB) dapat terkena gray sindroma pada hari ke 4 terapi.
•Gejala gray sindroma adalah:
  1.   – mula-mula bayi muntah,
  2.    – tidak mau menyusu
  3.   – pernafasan cepat dan tidak teratur
  4.   – perut kembung
  5.   – sianosis
  6.   – feses berwarna hijau dan diare
  7.  – selanjutnya bayi lemas dan berwarna abu-abu.
  8. – hipotermia, 40% kasus terjadi kematian.

Efek toksik ini terjadi karena:

  • Sistem metabolisme aitu konyugasi melalui enzim glukuronil transferase belum sempurna.
  • Kloramfenikol yang tidak terkonyugasi belum dapat diekskresi dengan baik oleh ginjal. Bayi kurang dari 1 bulan dosisnya tidak boleh dari 25 mg/kg BB sehari. Bayi lebih dari 1 bulan 50 mg/kg BB sehari.

– Reaksi neurologik: -depresi, bingung, delirium  dan sakit kepala.

– Efek biologik lain: mengubah mikroflora normal.

– Neuritis optik: penglihatan kabur

INDIKASI

Demam tifoid.

•Kloramfenikol masih merupakan obat terpilih untuk demam tifoid dan infeksi salmonella lain.
•Ampisilin dan amoksisilin juga efektif untuk demam tifoid.
•Galur yang sudah resisten digunakan kombinasi trimetoprim-sulfametoksazol (kotrimoksazol).
•Dosis kloramfenikol 4 kali 0,5-1 g selama 2-3 minggu.

Meningitis karena bakteri.

•Kloramfenikol efektif untuk meningitis karena H.influenza maupun karena N. meningitidis dan Streptomyses pneumoniae.
•Dosis kloramfenikol untuk anak-anak 50-75 mg/kg BB dibagi 4 dosis i.v tiap 6 jam selama 2 minggu.

Infeksi saluran urin:

•Kloramfenikol hanya digunakan pada pielonefritis akut dimana tidak ada obat lain yang lebih efektif dan aman.

Penyakit Riketsia.

•Pilihan pertama pengobatan riketsia tetrasiklin.
•Kloramfenikol diberikan pada pasien yang sensitif thdap tetrasiklin, fungsi ginjal berkurang, wanita hamil, dan pasien berpenyakit berat shg harus diberikan secara parenteral.
  •   Dosis dewasa 500 mg tiap 4 jam oral.
  •   Dosis anak-anak 75 mg/kg dibagi 4 dosis

Infeksi anaerob.

•Pilihan pertama infeksi anaerob : klindamisin
•Kloramfenikol cukup efektif utk infeksi anaerob.
•Abses otak; kombinasi kloramfenikol & penisilin.
•Abses pelvis; oleh B. fragillis digunakan kloramfenikol, penisilin dan aminoglikosida.
•Kloramfenikol bisa diganti dengan klindamisin dan metronidazol.

Bruselosis:

•Pilihan pertama tetrasiklin.
•Bila kontraindikasi dapat kloramfenikol dg dosis 750 mg-1g oral tiap 6 jam.

Kontraindikasi:

•Alergi, penyakit hati berat, penyakit darah, insufisiensi ginjal, kombinasi dg obat hematotoksik, minggu terakhir kehamilan, menyusui, bayi prematur, neonatus.

Rute pemberian dan dosis:

•- Dosis maksimum dewasa tidak lebih dari 30 g. – Waktu pemberian tidak lebih dari 14 hari.
•- Pemakaian parenteral hanya untuk infeksi   yang sangat berat dengan dosis yang sama dengan dosis oral.
INTERAKSI
•Kloramfenikol menghambat biotransformasi senyawa lain oleh enzim mikrosoma hati.
•Interaksi kloramfenikol dengan obat lain:
Obat lain Akibat
Sefalosporin Kerja sefalosporin turun
Siklofosfamid Kerja sitostatika naik efek samping naik
Dikumarol AntikoagulanNaik
As. Nalidiksat Kerja as.nalidiksat turun
Penisilin Kerja penisilin turun
Fenitoin Kerja anti konvulsi  dan efek samping naik
Tolbutamid Kerja antidiabetes naik
TIAMFENIKOL
•Kurang aktif thdp bakteri gram + maupun gram – dari pada kloramfenikol.
•Efeknya sama dengan kloramfenikol thdp:
  •   – Streptococcus piogenes
  •   – Streptococcus pneumoniae
  •   – Haemiphyllus influenza
  •   – Meningococcus
•Indikasi tiamfenikol sama dengan kloramfenikol.
•Absorpsi dan distribusi sama dg kloramfenikol.
•Ekskresi melalui urin dalam keadaan utuh,
•Untuk penderita ginjal dosis harus dikurangi.

Efek samping:

•Depresi sumsum tulang yang reversibel, tergantung dosis.
•Jarang timbul aplasia sumsum tulang.

Dosis:

•Dewasa 1 gram sehari untuk 4 dosis.
•Anak-anak 25 mg/kg BB sehari dibagi 4 dosis.
•Untuk infeksi berat dosis dapat 2 kali lipat.
•Tiamfenikol glisinat untuk dewasa dan anak-anak 25 mg/kg BB sehari i.m atau i.v dibagi 3-4 dosis.

Silahkan Cuap-cuap

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s